Anjas Wijanarko

Icon

Sebuah Perjalanan Kawula Nglaras Sontoloyo

CURHAT : Nilai dari Sebutir Kejujuran

Beberapa waktu yang lalu ketika mengunjungi Sekaten, saya menyempatkan diri untuk memotret pedagang emas pinggir jalan. Sudah lama saya ingin memotretnya karena cukup unik. Berbekal sebuah timbangan dan kotak kaca kecil, mereka bertransaksi sebuah benda yang sangat dicari-cari dan dihargai orang. Sebegitu berharganya, hingga setiap butirnya sangat menentukan harga. Untuk itu kejujuran yang diwakili dengan alat timbangan itu sangatlah menentukan.

Bicara masalah kejujuran, saya teringat dengan “karak”. Kerupuk nasi yang rasanya gurih itu sangat pas buat kudapan atau menu santap siang. Namun saya mempunyai kenangan dongkol berkaitan dengan karak dan kejujuran di sebuah rumah makan yang menyajikan masakan jawa di jalan Adisucipto. Di toples jelas tertera bahwa harga per biji karak jual-emas-01adalah 250 perak. Namun sungguh aneh ketika dihitung di kasir, saya harus membayar 1500 perak untuk lima biji karak. Saya mencoba meneliti siapa tahu ada ketentuan yang tertera di situ. Namun tidak ada. Logika anak yang baru belajar berhitung pasti tahu bahwa 250 x 5 adalah 1250, bukan 1500. Dan ketika saya tanyakan kepada kasir kenapa hitungannya menjadi seperti itu, si kasir bilang dengan ketus, “1250 sama 1500 sama saja, kalau bapak tidak terima ambil karak satu lagi aja,”. E…e…e… kok malah nantang??!!!

Persoalannya bukan uang 250 perak (saya merasa dirugikan sebesar itu dalam nilai rupiah), namun sikap sang kasir yang mau menang sendiri dan sudah berbuat tidak jujur terhadap saya, konsumennya. Dia sudah menganggap saya bodoh dan harus tunduk kepada aturannya mentang-mentang (mungkin saja) ini restoran milik dia. Padahal saya sudah menyiapkan mind set saya bahwa saya adalah pembelinya, dan menyiapkan uang sesuai dengan barang yang saya beli. Namun mind set saya keliru di tempat ini.

Saya tidak mengerti benar apa yang ada di otak kasir itu. Melihat dari penampilannya, kemungkinan dia yang empunya rumah makan. Namun apakah itu bisa menjadikan alasan untuk jumawa dan menipu konsumen. Saya menjadi berpikir ulang untuk kembali lagi ke rumah makan itu. Banyak sekali makanan-makanan yang cara penghitungannya sangat samar. Sebut saja sayur, bagaimana cara menghitungnya? Terus udang kecil, usus goreng, dll. Mengingat rumah makan itu termasuk “pukwe” alias njupuk dhewe, ukuran yang bagaimana untuk menentukan apakah satu makanan itu diambil satu porsi atau dua porsi? Kalau telur mungkin jelas, satu butir, dua butir… Tapi kalau udang kecil, usus goreng dll? Susah bukan?

Nah jangan-jangan kesempatan ini diambil oleh pengelola rumah makan itu. Masih ingat dengan wedhangan yang mendapat julukan “kalkulatornya rusak”? Mungkin saya termasuk orang yang berburuk sangka kepada rumah makan itu, namun melihat indikasi untuk urusan karak saja sudah menipu dan membodohi konsumen?

Ah… sudahlah…. saya juga tidak mau ribut untuk urusan uang. Namun, saya merasa kasihan, seorang yang sudah bisa mengelola sebuah rumah makan menjadi besar, ternyata tidak diimbangi kejujuran dalam mengelolanya. Bagi anda yang ingin tertipu, monggo silakan menikmati di rumah makan masakan jawa yang cukup besar dan laris di jalan Adisucipto, yang rasa masakannya sekarang juga sudah mulai tidak karu-karuan…. hehehe…

Filed under: MY LOVELY JOURNEY

ENTERTAINMENT : Artis dan Sok Artis

Menjadi artis mungkin idaman bagi sebagian orang. Semacam pendapat yang mengatakan ada hubungan yang signifikan antara artis-terkenal-kekayaan-kebahagiaan. Pendapat itu tentu saja tidak keliru, karena sebagaimana yang kita lihat di televisi hidup para artis tidaklah jauh dari itu, begitu mudahnya mencari uang.

Namun apakah itu dapat dicapai dengan mudah? Jawabnya tentu saja tidak. Selain dibutuhkan semacam talenta, plus kecantikan wajah dan body, serta penampilan yang sempurna tentu saja ada hal yang lain, yaitu masalah manajemen. Hal tersebut yang sering dilupakan sehingga merugikan seseorang yang ingin merintis di dunia tersebut. Manajemen tersebut bisa jadi meliputi manajemen waktu, manajemen keuangan sampai memanajemen diri sendiri.

Bicara manajemen diri sendiri ini yang seringkali luput diartikan oleh seorang calon artis. Dengan alasan menjaga penampilan atau membatasi pergaulan, mereka terkadang bersikap sombong dan cenderung menganggap pihak lain sebagai pelengkap hidupnya saja. Sebagai contoh, bagaimana seorang calon artis dengan entengnya terlambat atau bahkan menunda sebuah photo session yang sudah dijanjikan dengan alasan tidak enak badan. Padahal dia tidak enak badan karena semalam habis mabuk-mabukan di sebuah hotel terkenal. Hal tersebut, tentu saja sudah merugikan nama baiknya. Seharusnya kalau tahu besok ada pemotretan, ini hari harus mulai menjaga kondisi agar pemotretan bisa berjalan dengan lancar.

blog-model-001

Banyak kasus-kasus lain yang terjadi. Seperti, bersikap angkuh dan merasa harga dirinya tinggi, tidak seperti kebanyakan orang lain, mencoba gaya hidup borjuisme (trendy) tanpa pernah mengerti bagaimana membelanjakan uangnya dengan baik, menikmati gaya hidup yang berlebihan dan lain sebagainya. Justru dari situlah mulainya seorang calon artis tergelincir kepada kehidupan yang gelap seperti narkoba, seks bebas, pelecehan lembaga perkawinan, dan lain sebagainya. Terlalu banyak contoh kasus.

Menurut saya, menjadi artis adalah seorang profesional, dimana bisa menghargai dan bisa bekerjasama dengan rekan kerja, tepat waktu, dan yang paling penting : mempunyai social responsbility yang tulus, bukan dibuat-buat hanya karena dia seorang artis. Itulah artis yang sesungguhnya dan tidak akan padam sampai akhir hayatnya. Hal yang demikian pun banyak contoh kasusnya….

Filed under: ENTERTAINMENT , , , ,

RSS Khabar Bengawan

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.