Feeds:
Tulisan
Komentar

Sebuah Pembenaran (01)

Tiba-tiba dia kembali datang mengetuk pintu kamarku. Wajah yang dulunya tampak cantik dan cerah ceria, kini di luar dugaanku, tampak hampir menyerah kalah kepada umur, berkerut dan kantung matanya mulai menggantung.

Sebuah senyuman tawar dipaksakan untukku. Dia hendak memelukku, namun sepertinya ada jarak yang mengganjal. Tampaknya dia bukan seperti dulu lagi. Ada ribuan perubahan dalam dirinya. Sel-sel yang dulu menguasainya telah pelan-pelan membunuhnya. Idea-idea cemerlangnya ternyata berubah menjadi monster mengerikan yang benar-benar menggulingkan dirinya dari kekuasaan atas dirinya sendiri.

“Aku ingin menangis, Min…”, katanya kepadaku. “Maafkan aku telah mengkhianatimu.”, katanya lagi. Dia menangis tanpa mampu memandangku lagi. “Tapi aku bahagia sekarang. Aku telah memilih untuk diriku sendiri. Aku bahagia.”, katanya lagi mencoba menghiburku karena aku paling tidak bisa melihat dia sengsara.

Dia memang telah memilih. Ditinggalkannya setiap bangunan yang telah dibangunnya, bahkan mungkin berani merobohkannya hanya sekedar untuk dikatakan sebagai orang yang tidak cengeng dalam memilih kehidupannya sendiri. Astaga dia tetap cantik dan sekaligus keras kepala. Aku tahu dia bohong. Dia akan selalu bohong, terutama tentang kehidupannya yang memang benar-benar miliknya. Aku tak perlu masuk ke ranah itu, karena sesungguhnya dia yang paling tahu tentang kehidupannya sendiri.

Tapi sungguhpun begitu dia tidak bisa menipu. Yang aku tahu, dia selalu terluka dan terjatuh hingga hampir tak berdaya. Nyawanya selalu saja di ujung rambut. Tapi dia yang membuat itu sendiri. Setiap hari dia ambil pisau yang paling tajam, lalu kembali menggores-gores kulitnya yang halus mulus. “Otakmu adalah pisaumu. Logikamu adalah racun bagimu.”, kataku kepadanya keras dan tegas. Aku ingin memeluknya tetapi rasa jijik hampir saja menutup mata dan perasaanku. Teringat begitu pekat dia telah berbohong kepadaku. Dan maaf…terlalu banyak bibir yang mampir di bibirnya.

“Tapi kamu harus tahu, bagaimana sakitnya orang-orang yang mencoba menghiburmu, betapa nestapanya orang yang jatuh cinta kepadamu, dan betapa tragisnya orang-orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk kehidupanmu.Kamu pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa pesan.”

“Beberapa hari yang lalu aku sakit, Min. Kandunganku telah diangkat dan aku tidak bisa mempunyai anak lagi. Dan itu adalah pukulan yang berat bagiku. Aku wanita. Dan bukankah semua mahkluk di dunia ini menginginkan anak sebagai buah hatinya? Tapi aku tak bisa menolak. Perjalananku memang demikian. Paling tidak, aku telah menyelesaikan satu babak dalam kehidupanku.”

“Tapi kau telah mempunyai anak khan?”, tanyaku lagi. Dia menjawab, “Sepertinya memang begitu. Tapi aku merasa aku bukanlah miliknya. Sepasang sayap telah membawaku pergi entah kemana. Dan aku harus mengakuinya, bahwa aku harus menuruti kemana sayap itu mengepak. Inilah kehidupanku, Min, bukan kehidupan anakku, suamiku atau entahlah siapa itu.”. Aku memotong kalimatnya, “Kamu masih saja sombong!”… Dia berteriak dan menangis, “Aku tidak sombong!!!”

Selama ini dia berpikir, bahwa orang-oranglah yang menyita kehidupannya. Orang lainlah yang membuatnya mengambil keputusan seperti ini. Jalan dia adalah jalan yang dibuat untuknya. Dia seperti tak kuasa menentang apa yang terkehendak oleh orang lain, sampai akhirnya membuat dia berlari dan berlari seperti tanpa tujuan yang pasti. “Tapi kamu harus tahu, bagaimana sakitnya orang-orang yang mencoba menghiburmu, betapa nestapanya orang yang jatuh cinta kepadamu, dan betapa tragisnya orang-orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk kehidupanmu.”Kamu pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa pesan.”, jawabku pelan.

“Aku harus memilih antara luka dan kematian. Tidak ada pilihan yang lain. Apakah aku salah ketika aku memilih jalan untuk menghindari kematianku?”

Dia terduduk dan diam. Berjuta kata maaf telah menyembur dalam mulutnya, tapi sampah-sampah terlalu banyak mengelilinginya. Sebuah de-javu yang mengelilingi kehidupanku ternyata merupakan imajinasinya! Sungguh kekuatan yang luar biasa. Aku terpesona kepadanya, sampai akhirnya kutemukan dia tergeletak di atas ranjang dengan dada terbuka dan bilur-bilur kemerahan merajah punggungnya. Dan aku tahu, cemeti berada di tangan kirinya, pisau di tangan kanannya. Dia telah melukai dirinya sendiri.

“Aku harus memilih antara luka dan kematian. Tidak ada pilihan yang lain. Apakah aku salah ketika aku memilih jalan untuk menghindari kematianku?”, jawabnya di sela isak tangisnya. “Min… sampai detik ini aku yakin, bahwa tidak akan ada yang mengerti tentang aku. Bahkan bundaku yang melahirkan aku sendiri dan anakku yang telah kupertaruhkan nyawa untuknya, juga tidak pernah mengerti. Aku hanya bisa menghindar dan bertahan, Min, semoga kamu mengerti akan diriku. Maafkan aku.” katanya.

Aku mengangkat tubuhnya agar berdiri. Lalu kupandangi wajahnya yang sayu. Perlahan, dia benar-benar kehilangan kecantikannya. Logika hati nuraninya telah berubah menjadi logika untung rugi. Kehormatan dirinya telah berubah menjadi kehidupan yang serba semu. Tidak ada lagi menjaga hati, tidak lagi menjaga nurani. Semuanya telah berubah. Dan ada yang tidak bisa ditolaknya : sampai sejauh mana kakinya bisa menopang tubuhnya dan kerut-kerut wajahnya tidak tertutupi lagi. “Kamu tidak mampu lagi mengendalikan kakimu melangkah dan mulai lupa kapan kamu tersenyum… karena hatimu telah tertutup debu yang kau ciptakan sendiri…”

Solo, 12 Januari 2009

PHOTOS BY ANJAS WIJANARKO | MODEL BY CHILLI RASTRIYANTO
(P) & (C) 2009 COPYRIGHT ALL RESERVED

Beberapa waktu yang lalu ketika mengunjungi Sekaten, saya menyempatkan diri untuk memotret pedagang emas pinggir jalan. Sudah lama saya ingin memotretnya karena cukup unik. Berbekal sebuah timbangan dan kotak kaca kecil, mereka bertransaksi sebuah benda yang sangat dicari-cari dan dihargai orang. Sebegitu berharganya, hingga setiap butirnya sangat menentukan harga. Untuk itu kejujuran yang diwakili dengan alat timbangan itu sangatlah menentukan.

Bicara masalah kejujuran, saya teringat dengan “karak”. Kerupuk nasi yang rasanya gurih itu sangat pas buat kudapan atau menu santap siang. Namun saya mempunyai kenangan dongkol berkaitan dengan karak dan kejujuran di sebuah rumah makan yang menyajikan masakan jawa di jalan Adisucipto. Di toples jelas tertera bahwa harga per biji karak adalah 250 perak. Namun sungguh aneh ketika dihitung di kasir, saya harus membayar 1500 perak untuk lima biji karak. Saya mencoba meneliti siapa tahu ada ketentuan yang tertera di situ. Namun tidak ada. Logika anak yang baru belajar berhitung pasti tahu bahwa 250 x 5 adalah 1250, bukan 1500. Dan ketika saya tanyakan kepada kasir kenapa hitungannya menjadi seperti itu, si kasir bilang dengan ketus, “1250 sama 1500 sama saja, kalau bapak tidak terima ambil karak satu lagi aja,”. E…e…e… kok malah nantang??!!!

Persoalannya bukan uang 250 perak (saya merasa dirugikan sebesar itu dalam nilai rupiah), namun sikap sang kasir yang mau menang sendiri dan sudah berbuat tidak jujur terhadap saya, konsumennya. Dia sudah menganggap saya bodoh dan harus tunduk kepada aturannya mentang-mentang (mungkin saja) ini restoran milik dia. Padahal saya sudah menyiapkan mind set saya bahwa saya adalah pembelinya, dan menyiapkan uang sesuai dengan barang yang saya beli. Namun mind set saya keliru di tempat ini.

Saya tidak mengerti benar apa yang ada di otak kasir itu. Melihat dari penampilannya, kemungkinan dia yang empunya rumah makan. Namun apakah itu bisa menjadikan alasan untuk jumawa dan menipu konsumen. Saya menjadi berpikir ulang untuk kembali lagi ke rumah makan itu. Banyak sekali makanan-makanan yang cara penghitungannya sangat samar. Sebut saja sayur, bagaimana cara menghitungnya? Terus udang kecil, usus goreng, dll. Mengingat rumah makan itu termasuk “pukwe” alias njupuk dhewe, ukuran yang bagaimana untuk menentukan apakah satu makanan itu diambil satu porsi atau dua porsi? Kalau telur mungkin jelas, satu butir, dua butir… Tapi kalau udang kecil, usus goreng dll? Susah bukan?

Nah jangan-jangan kesempatan ini diambil oleh pengelola rumah makan itu. Masih ingat dengan wedhangan yang mendapat julukan “kalkulatornya rusak”? Mungkin saya termasuk orang yang berburuk sangka kepada rumah makan itu, namun melihat indikasi untuk urusan karak saja sudah menipu dan membodohi konsumen?

Ah… sudahlah…. saya juga tidak mau ribut untuk urusan uang. Namun, saya merasa kasihan, seorang yang sudah bisa mengelola sebuah rumah makan menjadi besar, ternyata tidak diimbangi kejujuran dalam mengelolanya. Bagi anda yang ingin tertipu, monggo silakan menikmati di rumah makan masakan jawa yang cukup besar dan laris di jalan Adisucipto, yang rasa masakannya sekarang juga sudah mulai tidak karu-karuan…. hehehe…

Tulisan Sebelumnya »