Samson Ingin di Jakarta

Perlahan Samson menarik napasnya dalam-dalam. Lalu menghembuskannya dengan perlahan. Tangannya mengepal kuat, lalu ditinjunya langit sambil berteriak,”Haaahhh”.

“Jadi tekadmu semakin bulat untuk merantau ke Jakarta?”, tanya Bintang sambil memperhatikan tingkah kawan sepermainannya itu.

“Jadi dong.”, jawab Samson setengah tak acuh. “Keputusanku ini sudah bulat dan kupertimbangkan masak-masak. Sulit berkembang kalau harus berada di desa ini. Aku bukan penjarah atau pengusaha latah. Aku ingin ada revolusi dalam hidupku.”, Samson berkata mantap.

Bintang sedikit tersenyum sinis. “Jakarta. Begitu banyak yang berhasil dan melupakan akar yang pernah ada.”

“Hey… ini bukan masalah lupa atau tidak lupa, Bin. Ini masalah prinsip. Apa gunanya kita sekolah setinggi langit kalau kita tidak menggenggam dunia. Kamu jangan menjadi sarjana sakit yang termakan omongan orang-orang untuk membangun desa. Itu omong kosong. Ini dunia global. Ini kemajuan!”, sergah Samson.

Samson meneruskan omongannya, “Dengar, Bin. Jakarta adalah kota besar. Kita harus memenangkan persaingan kalau ingin hidup di sana. Dan itu yang aku inginkan! Percuma aku menyandang nama Samson kalau keok sebelum bertanding. Ya kan?”

Bintang menyedot rokoknya dalam-dalam. Dan dirasakannya desir angin membelai tubuhnya. Tapi bagi Samson rupanya angin tak lebih sapaan romantisme yang harus ditepis dengan segera. “Gemerlap Jakarta begitu menarik perhatianku. Aku selalu memimpikan berada di sana, berjalan-jalan di antara hiruk pikuknya suasana lalu bergabung dengan orang-orang yang berpikiran maju, bukan statis seperti di desa ini.”, kata Samson mantap.

Keduanya lalu terdiam sejenak. Terasakan kembali desiran angin membelai-belai kulit yang legam. Lembayung senja mulai mendekap seluruh permukaan danau yang diam.

“Maaf, Bin. Tolong jangan ganggu aku bermimpi untuk menaklukan Jakarta. Ini keputusan riil dan aku akan melakoninya.”, jawab Samson sambil hendak beranjak pergi. “Maaf, aku harus segera bersiap-siap.”

Bintang terus memandangi Samson yang semakin sibuk akan mimpi-mimpinya. Lalu dibiarkannya Samson pergi. “Oh ya, nanti kalau aku pulang mengendarai Honda Jazz, aku tak akan lupa kok sama akarku. Aku tetap pemuda Bina Koya yang dulu pernah menempuh sekolah bersamamu.”, kata Samson. Bintang menjawabnya dengan senyum getir.

***

Perlahan Samson memandangi layar monitor komputernya. Tertayang jelas wajah cantik bermata sayu dengan senyum mengembang. Wanita itu benar-benar telah menyita perhatiannya, wanita yang telah merubah pola pikirnya dari pikiran konvensional menjadi pikiran yang progresif revolusioner. Wanita itu, seorang yang sangat terluka hati dan hampir kehilangan harga dirinya. Namun dibalik kelukaan itu ternyata dia bisa membalikkan situasi menjadi seorang yang gigih dan pantang menyerah.

“Kesakitanku telah membuka mata hatiku bahwa menggantungkan hidup dari seseorang adalah kosong belaka. Aku mulai kembali belajar dan di situ pula aku menemukan semangat hidupku. Beruntung aku berada di lingkungan yang baik sama aku. Ayo, Son. Kamu jangan menyerah. Jalan itu kita yang bikin. Kamu harus tetap bersemangat!”, kata-kata itu benar-benar tercamkan dalam diri Samson.

“Oke, Sis. Aku tidak tahu apakah ini hanya dilandasi rasa cinta yang membabi buta ataukah logikaku yang telah berpikir dengan terang benderang. Tapi kamu telah menjadi pelita dalam hidupku. Aku akan berangkat, Sis. Tunggu aku di Jakarta!”, desah Samson mantap sambil mengepalkan tinjunya dengan erat.

Pancoran, 9 September 2011