Tiba-tiba dia kembali datang mengetuk pintu kamarku. Wajah yang dulunya tampak cantik dan cerah ceria, kini di luar dugaanku, tampak hampir menyerah kalah kepada umur, berkerut dan kantung matanya mulai menggantung.
Sebuah senyuman tawar dipaksakan untukku. Dia hendak memelukku, namun sepertinya ada jarak yang mengganjal. Tampaknya dia bukan seperti dulu lagi. Ada ribuan perubahan dalam dirinya. Sel-sel yang dulu menguasainya telah pelan-pelan membunuhnya. Idea-idea cemerlangnya ternyata berubah menjadi monster mengerikan yang benar-benar menggulingkan dirinya dari kekuasaan atas dirinya sendiri.
“Aku ingin menangis, Min…”, katanya kepadaku. “Maafkan aku telah mengkhianatimu.”, katanya lagi. Dia menangis tanpa mampu memandangku lagi. “Tapi aku bahagia sekarang. Aku telah memilih untuk diriku sendiri. Aku bahagia.”, katanya lagi mencoba menghiburku karena aku paling tidak bisa melihat dia sengsara.
Dia memang telah memilih. Ditinggalkannya setiap bangunan yang telah dibangunnya, bahkan mungkin berani merobohkannya hanya sekedar untuk dikatakan sebagai orang yang tidak cengeng dalam memilih kehidupannya sendiri. Astaga dia tetap cantik dan sekaligus keras kepala. Aku tahu dia bohong. Dia akan selalu bohong, terutama tentang kehidupannya yang memang benar-benar miliknya. Aku tak perlu masuk ke ranah itu, karena sesungguhnya dia yang paling tahu tentang kehidupannya sendiri.
Tapi sungguhpun begitu dia tidak bisa menipu. Yang aku tahu, dia selalu terluka dan terjatuh hingga hampir tak berdaya. Nyawanya selalu saja di ujung rambut. Tapi dia yang membuat itu sendiri. Setiap hari dia ambil pisau yang paling tajam, lalu kembali menggores-gores kulitnya yang halus mulus. “Otakmu adalah pisaumu. Logikamu adalah racun bagimu.”, kataku kepadanya keras dan tegas. Aku ingin memeluknya tetapi rasa jijik hampir saja menutup mata dan perasaanku. Teringat begitu pekat dia telah berbohong kepadaku. Dan maaf…terlalu banyak bibir yang mampir di bibirnya.
“Tapi kamu harus tahu, bagaimana sakitnya orang-orang yang mencoba menghiburmu, betapa nestapanya orang yang jatuh cinta kepadamu, dan betapa tragisnya orang-orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk kehidupanmu.Kamu pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa pesan.”
“Beberapa hari yang lalu aku sakit, Min. Kandunganku telah diangkat dan aku tidak bisa mempunyai anak lagi. Dan itu adalah pukulan yang berat bagiku. Aku wanita. Dan bukankah semua mahkluk di dunia ini menginginkan anak sebagai buah hatinya? Tapi aku tak bisa menolak. Perjalananku memang demikian. Paling tidak, aku telah menyelesaikan satu babak dalam kehidupanku.”
“Tapi kau telah mempunyai anak khan?”, tanyaku lagi. Dia menjawab, “Sepertinya memang begitu. Tapi aku merasa aku bukanlah miliknya. Sepasang sayap telah membawaku pergi entah kemana. Dan aku harus mengakuinya, bahwa aku harus menuruti kemana sayap itu mengepak. Inilah kehidupanku, Min, bukan kehidupan anakku, suamiku atau entahlah siapa itu.”. Aku memotong kalimatnya, “Kamu masih saja sombong!”… Dia berteriak dan menangis, “Aku tidak sombong!!!”
Selama ini dia berpikir, bahwa orang-oranglah yang menyita kehidupannya. Orang lainlah yang membuatnya mengambil keputusan seperti ini. Jalan dia adalah jalan yang dibuat untuknya. Dia seperti tak kuasa menentang apa yang terkehendak oleh orang lain, sampai akhirnya membuat dia berlari dan berlari seperti tanpa tujuan yang pasti. “Tapi kamu harus tahu, bagaimana sakitnya orang-orang yang mencoba menghiburmu, betapa nestapanya orang yang jatuh cinta kepadamu, dan betapa tragisnya orang-orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk kehidupanmu.”Kamu pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa pesan.”, jawabku pelan.
“Aku harus memilih antara luka dan kematian. Tidak ada pilihan yang lain. Apakah aku salah ketika aku memilih jalan untuk menghindari kematianku?”
Dia terduduk dan diam. Berjuta kata maaf telah menyembur dalam mulutnya, tapi sampah-sampah terlalu banyak mengelilinginya. Sebuah de-javu yang mengelilingi kehidupanku ternyata merupakan imajinasinya! Sungguh kekuatan yang luar biasa. Aku terpesona kepadanya, sampai akhirnya kutemukan dia tergeletak di atas ranjang dengan dada terbuka dan bilur-bilur kemerahan merajah punggungnya. Dan aku tahu, cemeti berada di tangan kirinya, pisau di tangan kanannya. Dia telah melukai dirinya sendiri.
“Aku harus memilih antara luka dan kematian. Tidak ada pilihan yang lain. Apakah aku salah ketika aku memilih jalan untuk menghindari kematianku?”, jawabnya di sela isak tangisnya. “Min… sampai detik ini aku yakin, bahwa tidak akan ada yang mengerti tentang aku. Bahkan bundaku yang melahirkan aku sendiri dan anakku yang telah kupertaruhkan nyawa untuknya, juga tidak pernah mengerti. Aku hanya bisa menghindar dan bertahan, Min, semoga kamu mengerti akan diriku. Maafkan aku.” katanya.
Aku mengangkat tubuhnya agar berdiri. Lalu kupandangi wajahnya yang sayu. Perlahan, dia benar-benar kehilangan kecantikannya. Logika hati nuraninya telah berubah menjadi logika untung rugi. Kehormatan dirinya telah berubah menjadi kehidupan yang serba semu. Tidak ada lagi menjaga hati, tidak lagi menjaga nurani. Semuanya telah berubah. Dan ada yang tidak bisa ditolaknya : sampai sejauh mana kakinya bisa menopang tubuhnya dan kerut-kerut wajahnya tidak tertutupi lagi. “Kamu tidak mampu lagi mengendalikan kakimu melangkah dan mulai lupa kapan kamu tersenyum… karena hatimu telah tertutup debu yang kau ciptakan sendiri…”
Solo, 12 Januari 2009
PHOTOS BY ANJAS WIJANARKO | MODEL BY CHILLI RASTRIYANTO
(P) & (C) 2009 COPYRIGHT ALL RESERVED




