Lost In Paradise

Berjalan diantara kerumunan itu terasa seperti menyesakkan. Semuanya berjalan dengan cepat seperti melindas ruang dan waktu. Tidak ada jarak lagi untuk sekedar menyelaraskan badan dan menghirup napas dalam-dalam. Yah… semuanya serba bising, semuanya serba cepat, akan menggilas kita kalau kita tidak hati-hati, akan memukul kita kalau tidak waspada. Inilah deru metropolitan.

Seorang wanita terkulai lemas di atas ranjang. Dibawahnya terbaring seorang lelaki yang kelelahan. Yah… norma-norma hanya hitungan untung rugi semata. Hawa nafsu menjadi tuhan, logika menjadi pembenaran dan kapitalisme menjadi kitab, maka jangan salahkan kalau akhirnya agama menjadi alat loby semata. Inilah deru metropolitan.

“Money is our god, bussiness is our pray!“, maka tidak akan sadar ketika sudah menjadi komoditas dan rakus memakan simbol-simbol kapitalisme itu seperti minum vitamin setiap harinya. Maka tidak ada lagi keluarga, tidak ada lagi anak berani merengek minum susu ibunya, dan mani sang suami tumpah di tempat pelacuran semata. Semuanya menjadi sah, karena ini deru metropolitan.

Maka tidaklah heran ketika kita melihat pasangan muda berciuman di tempat terbuka, lelaki kawin dengan lelaki, wanita bercinta dengan wanita, kemaluan diumbar kemana-mana, hedonisme menjadi simbol kesuksesan semata, dan cinta suci hanya dimulut semata. Seperti tidak sadar kalau akan menjadi tua. Maafkan aku. Aku tidak memusuhi metropolitan. Tapi aku tidak ingin tersesat ke dalam surga, karena metropolitan telah dijadikan surga pembenaran.

Jakarta, 19 Februari 2009

4 Respon untuk Lost In Paradise

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s