Menjadi artis mungkin idaman bagi sebagian orang. Semacam pendapat yang mengatakan ada hubungan yang signifikan antara artis-terkenal-kekayaan-kebahagiaan. Pendapat itu tentu saja tidak keliru, karena sebagaimana yang kita lihat di televisi hidup para artis tidaklah jauh dari itu, begitu mudahnya mencari uang.
Namun apakah itu dapat dicapai dengan mudah? Jawabnya tentu saja tidak. Selain dibutuhkan semacam talenta, plus kecantikan wajah dan body, serta penampilan yang sempurna tentu saja ada hal yang lain, yaitu masalah manajemen. Hal tersebut yang sering dilupakan sehingga merugikan seseorang yang ingin merintis di dunia tersebut. Manajemen tersebut bisa jadi meliputi manajemen waktu, manajemen keuangan sampai memanajemen diri sendiri.
Bicara manajemen diri sendiri ini yang seringkali luput diartikan oleh seorang calon artis. Dengan alasan menjaga penampilan atau membatasi pergaulan, mereka terkadang bersikap sombong dan cenderung menganggap pihak lain sebagai pelengkap hidupnya saja. Sebagai contoh, bagaimana seorang calon artis dengan entengnya terlambat atau bahkan menunda sebuah photo session yang sudah dijanjikan dengan alasan tidak enak badan. Padahal dia tidak enak badan karena semalam habis mabuk-mabukan di sebuah hotel terkenal. Hal tersebut, tentu saja sudah merugikan nama baiknya. Seharusnya kalau tahu besok ada pemotretan, ini hari harus mulai menjaga kondisi agar pemotretan bisa berjalan dengan lancar.
Banyak kasus-kasus lain yang terjadi. Seperti, bersikap angkuh dan merasa harga dirinya tinggi, tidak seperti kebanyakan orang lain, mencoba gaya hidup borjuisme (trendy) tanpa pernah mengerti bagaimana membelanjakan uangnya dengan baik, menikmati gaya hidup yang berlebihan dan lain sebagainya. Justru dari situlah mulainya seorang calon artis tergelincir kepada kehidupan yang gelap seperti narkoba, seks bebas, pelecehan lembaga perkawinan, dan lain sebagainya. Terlalu banyak contoh kasus.
Menurut saya, menjadi artis adalah seorang profesional, dimana bisa menghargai dan bisa bekerjasama dengan rekan kerja, tepat waktu, dan yang paling penting : mempunyai social responsbility yang tulus, bukan dibuat-buat hanya karena dia seorang artis. Itulah artis yang sesungguhnya dan tidak akan padam sampai akhir hayatnya. Hal yang demikian pun banyak contoh kasusnya….
wuih..sippp..buat mereka yang sok artis..baca artikel ini
setuju sekali..semoga dengan artikel ini, mereka dapat terbuka mata dan pikirannya..
Dan semoga mereka bisa introspeksi diri dan mulai berbenah diri
mulai dari sekarang..
aku support terus buat THE FLASH
Semoga kalian tidak menjadi seperti mereka..
KEEP ON ROCK..baibeh..!!
Akibat terpaan media pula, jaman sekarang banyak anak muda yang sok ngartis. Padahal sebenarnya ‘kopong’ juga, haha
Jadi, kapan kita motret ‘yangsokngartisitu’, yang cewek lho ya, jangan batangan
eh menurut mas, kalo artis pendatang baru yang pengen terkenal, apa benar sih kabar2 kalau si calon artis kudu tidur dulu sama produser nya biar dapet peran film??
iya, ya ….
jadi, sebaiknya para calon artis itu ditatar P4 pola 36 jam dulu, biar dia jadi ingat sama tetangganya dikampung ….
Soal hubungan signifikan antara kekayaan dengan kebahagiaan itu, hanya orang pekok yang masih memegang teguh prinsip tersebut…
Sepakat dengan sampeyan sepenuhnya mas Anjas, bahwa menjadi seorang artis/publik figur itu tanggungjawabnya kepada orang banyak lebih besar daripada orang yang bukan artis, alias wong biasa… Jadi saya kira akan lebih membahagiakan apabila menjadi orang biasa saja namun yang bertanggungjawab pada lingkungan sekitarnya…
karena aku artis yang nggak sok artis maka saya nggak terlalu tersindir dengan tulisan ini…
hehehe…