Bintang menebarkan pandangannya ke arah danau, tampak luas seperti tidak berbatas. Airnya memantulkan semburat warna kehijauan dipayungi langit biru dan awan yang bergulung-gulung.
Lima belas tahun yang lalu Bintang sering diajak bapaknya untuk datang ke tempat ini. Hanya datang. Dan bapaknyalah yang akan lebih banyak diam di tepian sambil merokok sementara dirinya bisa bermain-main kesana-kemari. Kadang Bintang memanggil-manggil nelayan yang tak acuh mengitari danau, atau kadang memanggil ikan-ikan, berharap satu atau dua akan datang.
Tapi kini danau itu sudah banyak berubah. Ratusan karamba telah memenuhi permukaannya. Beratus-ratus meter persegi gulma telah menguasai danau. Orang-orang yang datang memancing, semakin hari semakin bertambah banyak, dan entah kenapa para pemancing itu mempunyai banyak waktu luang untuk menghabiskannya.
Kini Bintang juga datang dan cukup diam sambil menikmati sebatang rokok lalu memainkan asapnya. Bintang menikmati waktu-waktu diamnya. Danau itu, seringkali memberikan ilham.
Sesungguhnya bukan hanya Bintang yang merasakan manfaat dari danau ini. Hampir seluruh penduduk desanya juga menyukai keberadaan danau itu. Dulu sebelum Bintang lahir, desanya tak lebih dari desa miskin yang kering kerontang. Berkah hanya datang tiga bulan saja dalam setahun, saat musim hujan, di mana penduduk bisa bercocok tanam. Selebihnya, tanaman palawija pun sering kalah dengan tanah induknya sendiri. Hanya pohon jati yang semakin kekar bertahan selama bertahun-tahun.
Setelah sebuah bendungan dibangun, perubahan pun mulai tampak di desa ini. Penduduk mulai bisa menanami tanahnya dengan palawija atau kacang-kacangan. Bahkan di daerah tertentu melalui pengolahan tanah terpadu, akhirnya bisa ditanami padi, tanaman yang hampir tidak pernah ditemui sepanjang tahun. Singkat kata, kesejahteraan masyarakatpun meningkat. Rumah-rumah bambu berganti dengan rumah tembok. Kendaraan pengangkut hasil bumi pun mulai berlalu lalang. Dan anak-anak yang dulu dekil dan tidak membayangkan bisa sekolah pun akhirnya bisa dikirim ke kota tempat sekolahan-sekolahan terbaik di negeri ini berada.
Perubahan ritme hidup pun terjadi. Generasi muda yang telah mengecap kehidupan kota pun mulai enggan menyentuh tanah dan pupuk kandang. Mereka terbiasa dengan ruangan yang bersih dan terhormat. Banyak yang akhirnya memilih bekerja di kota. Mereka mulai menyandang status baru, sebagai “orang sukses”. Dan kemakmuran pun semakin menjadi-jadi di desa Bina Koya. Jalan-jalan, melalui swadaya masyarakat mulai dilapisi aspal atau beton, agar jalanan tidak merusakkan mobil-mobil person yang lewat. Televisi, video, komputer telah masuk ke desa. Kini, desa ini bukan lagi desa miskin tetapi telah menjadi desa yang kota. Para penduduk tidak lagi bersusah payah untuk bekerja di sawah.
Namun seiring tumbangnya rezim penguasa negeri ini yang akhirnya menimbulkan kekacauan di kota membuat beberapa “orang sukses” itu memutuskan untuk kembali ke desa. Mereka mulai mengeksploitasi kekayaan alam di desa. Beberapa mencoba-coba usaha perikanan dan berhasil. Mereka membuat karamba di danau dan membuka usaha rumah makan sekaligus wisata air. Sedangkan yang lainnya mulai merambah kayu jati dan menjualnya ke cukong-cukong yang sering datang ke desa. Dalam sekejap, puluhan truk memuat kayu jati hasil jarahan ke kota.
Sepertinya mereka semua mendapat ilham, bahwa untuk menjadi kayapun tidak perlu ke kota. “Orang sukses” itu kembali berbondong-bondong pulang ke desa. Semuanya ramai-ramai menjarah desa. Danaupun menjadi penuh dengan karamba dan rumah makan. Sementara bukit-bukit yang dulu penuh dengan pohon jati perlahan menjadi gundul dan kembali gersang.
Tapi, kehidupan tetap berjalan. Desa Bina Koya meski dengan terseok tetap melanjutkan perjalanannya. Dan dengan segala kebesaran hatinya tetap berjalan sesuai kehendak jaman, tetap bahagia dan tertawa menyambut perubahan jaman, sekaligus terluka dan berduka menjalani serakahnya jaman.
Perlahan Bintang menyedot rokoknya dalam-dalam. Terlintas dalam bayangan bapaknya sedang duduk di batu yang sama dan menikmati rokoknya sambil berkata : “Éalah…. Jaman saiki uwis jaman makmur ya lé, nèng endi-endi lampuné saya kencar-kencar sing murup. Nanging kok wong-wong ki kaya laron, senengané ming nyedaki lampu, njur kobong badané.” (“Ealah… Jaman sekarang sudah makmur ya, Nak, di mana-mana lampu-nya semakin gemerlap. Tapi orang-orang kok seperti laron ya, inginnya mendekati lampu kemudian terbakar badannya.”)
Turisari, 18 Agustus 2011
Note :
Mobil Person = Mobil Pribadi