Nilai dari Sebutir Kejujuran

Beberapa waktu yang lalu ketika mengunjungi Sekaten, saya menyempatkan diri untuk memotret pedagang emas pinggir jalan. Sudah lama saya ingin memotretnya karena cukup unik. Berbekal sebuah timbangan dan kotak kaca kecil, mereka bertransaksi sebuah benda yang sangat dicari-cari dan dihargai orang. Sebegitu berharganya, hingga setiap butirnya sangat menentukan harga. Untuk itu kejujuran yang diwakili dengan alat timbangan itu sangatlah menentukan.

Bicara masalah kejujuran, saya teringat dengan “karak”. Kerupuk nasi yang rasanya gurih itu sangat pas buat kudapan atau menu santap siang. Namun saya mempunyai kenangan dongkol berkaitan dengan karak dan kejujuran di sebuah rumah makan yang menyajikan masakan jawa di jalan Adisucipto. Di toples jelas tertera bahwa harga per biji karak adalah 250 perak. Namun sungguh aneh ketika dihitung di kasir, saya harus membayar 1500 perak untuk lima biji karak. Saya mencoba meneliti siapa tahu ada ketentuan yang tertera di situ. Namun tidak ada. Logika anak yang baru belajar berhitung pasti tahu bahwa 250 x 5 adalah 1250, bukan 1500. Dan ketika saya tanyakan kepada kasir kenapa hitungannya menjadi seperti itu, si kasir bilang dengan ketus, “1250 sama 1500 sama saja, kalau bapak tidak terima ambil karak satu lagi aja,”. E…e…e… kok malah nantang??!!!

Persoalannya bukan uang 250 perak (saya merasa dirugikan sebesar itu dalam nilai rupiah), namun sikap sang kasir yang mau menang sendiri dan sudah berbuat tidak jujur terhadap saya, konsumennya. Dia sudah menganggap saya bodoh dan harus tunduk kepada aturannya mentang-mentang (mungkin saja) ini restoran milik dia. Padahal saya sudah menyiapkan mind set saya bahwa saya adalah pembelinya, dan menyiapkan uang sesuai dengan barang yang saya beli. Namun mind set saya keliru di tempat ini.

Saya tidak mengerti benar apa yang ada di otak kasir itu. Melihat dari penampilannya, kemungkinan dia yang empunya rumah makan. Namun apakah itu bisa menjadikan alasan untuk jumawa dan menipu konsumen. Saya menjadi berpikir ulang untuk kembali lagi ke rumah makan itu. Banyak sekali makanan-makanan yang cara penghitungannya sangat samar. Sebut saja sayur, bagaimana cara menghitungnya? Terus udang kecil, usus goreng, dll. Mengingat rumah makan itu termasuk “pukwe” alias njupuk dhewe, ukuran yang bagaimana untuk menentukan apakah satu makanan itu diambil satu porsi atau dua porsi? Kalau telur mungkin jelas, satu butir, dua butir… Tapi kalau udang kecil, usus goreng dll? Susah bukan?

Nah jangan-jangan kesempatan ini diambil oleh pengelola rumah makan itu. Masih ingat dengan wedhangan yang mendapat julukan “kalkulatornya rusak”? Mungkin saya termasuk orang yang berburuk sangka kepada rumah makan itu, namun melihat indikasi untuk urusan karak saja sudah menipu dan membodohi konsumen?

Ah… sudahlah…. saya juga tidak mau ribut untuk urusan uang. Namun, saya merasa kasihan, seorang yang sudah bisa mengelola sebuah rumah makan menjadi besar, ternyata tidak diimbangi kejujuran dalam mengelolanya. Bagi anda yang ingin tertipu, monggo silakan menikmati di rumah makan masakan jawa yang cukup besar dan laris di jalan Adisucipto, yang rasa masakannya sekarang juga sudah mulai tidak karu-karuan…. hehehe…