Kawula Nglaras

Adzan Ashar bergema ketika aku melintasi pinggiran sungai itu. Seorang penggembala bebek, berumur kira 60 tahun berbadan bungkuk dan mengenakan caping lebar yang menutupi langkahnya, menghentikan langkahnya. Dengan pelan dia turun ke pinggir sungai dan membasuh tangan, wajah, lengan, kepala dan kakinya, berwudhlu. Lalu dia mengenakan sarung kumal dan baju lusuh. Dengan selembar kertas koran sebagai sajadah dia bershalat. Tangannya dengan tegap diangkatnya ke atas. Suaranya keruh tapi lantang bergetar menyeru takbir. Saat itu juga, semuanya seperti terdiam, sunyi. Bebek-bebek yang tadi riuh berebutan makanan di dalam kalipun juga seperti terdiam, ikut bersujud, menyembah sang Illahi. Orang tua itu mungkin sudah ringkih tubuhnya, sudah keruh suaranya, sudah rabun matanya, tetapi tidak hatinya. Dia hati yang keras namun terasa dingin dan sejuk. Aku salut dan malu pada orangtua itu, ditengah kesederhanaannya tetapi menjadi mewah ketika dia menyerukan nama Allah…. Saat itu tangan yang biasanya cekatan memencet tombol pembuka rana tiba-tiba menjadi diam dan kaku…

“Dados sontoloyo menika sanes pilihan, mas. Nanging nindakaken sontoloyo menika pilihan.”. Dia sangat bahagia ketika aku menjadi ma’mum dalam sholatnya. “Kita saged ngendelaken bebek-bebek menika diumbar mboten kanten-kantenan, ngendelaken diklethak kirik napa dipun lindhes montor. Nanging awake dhewe niku nggih tetep sontoloyo ta, sing gaweane angon bebek?“. Kemudian dia bersiap-siap hendak berangkat. “Mangga, Mas, kula aturi pinarak teng gubug kula. Senajan naming komboran nanging Insya Allah, saged ndadosno segering awak.” katanya lagi sambil tersenyum.

Maka terbayang dibenakku ketika aku sibuk di dalam pekerjaanku, sibuk dalam kehidupanku, ternyata aku melupakan sesuatu, sesuatu yang kadang sangat dibutuhkan untuk memberi kesejukan dalam hidup ini, namun tidak semua orang mampu iklash untuk memiliki. …

KAWULA NGLARAS

Berdiri memandang ombak bergemuruh menggempur pantai membuat kita sangat kecil. Dalam kesunyian kita baru bisa merasakan kelelahan yang luar biasa. Dalam kesunyian pula kita baru merasa bahwa kita sering menyia-nyiakan waktu kita, menyia-nyiakan hidup kita untuk sesuatu yang memperbudak kita, membutakan mata hati kita, dan membuat seolah-olah hal demikian adalah sesuatu yang menyakitkan kita. Begitu banyak pelajaran yang menuntun kita, tetapi kita lebih memilih melacurkan diri kita untuk sesuatu yang kosong. Norma sosial menjadi bullshit, membunuh orang lain menjadi permainan agama menjadi guyonan, dan kita terjebak dalam pusaran kehidupan modern dengan menghalalkan segala cara.

Tentu saja kita tidak harus membenci itu semua. Meraih impian adalah sesuatu yang sah dengan segenap keiklashan dan dilakukan tanpa harus melukai apalagi membunuh orang lain. Meraih impian adalah sesuatu yang sah pula tanpa harus melacurkan diri, karena impian di dunia adalah penting untuk mengetahui sebenarnya kenapa kita hidup di dunia, dan akhirnya mengetahui siapa diri kita sebenarnya ini.

Baiklah, maka biarkan aku disini sejenak, sambil mendengarkan debur ombak, merasakan halusnya sapaan angin, sambil melaraskan tubuh dan jiwa ini, melaraskan batin ini dan mengerti ada yang sangat penting yang harus aku kerjakan… “maka… tidak ada yang lebih penting dari mencintai diri sendiri, keluarga, sahabat-sahabat, dan orang-orang yang mencintai kita daripada mencintai hawa nafsu, keserakahan, dan impian-impian yang menjerumuskan kita kepada kemunafikan….” …

Salam, Wijanarko

* sontoloyo : penggembala bebek

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s